foto

foto

Sabtu, 09 Januari 2016

 Stalaktit dan Stalagmit
Jika masuk ke dalam sebuah gua, biasanya kita menemukan stalaktit dan stalagmit. Apa itu stalaktit dan stalagmit? 
Di dalam sebuah gua, kebanyakan langit-langit dan lantai gua terdapat batu-batu yang runcing. Nah, bagian yang runcing-runcing itu dinamakanstalaktit dan stalagmit .
Stalaktit  adalah sejenis mineral sekunder (speleothem ) yang menggantung di langit-langit gua kapur. inilah yang sering kita lihat ada di langit-langit atas gua. Sedangkan Stalagmit  adalah batuan yang terbentuk di lantai gua yang berasal dari tetesan air di langit-langit gua.Stalaktit dan stalagmit ini masuk dalam jenis batu tetes (dripstone ).
Stalaktit dan stalagmit terbentuk karena proses pelarutan air di daerah kapur secara terus-menerus. Larutan ini mengalir melalui bebatuan sampai mencapai sebuah tepi. Jika tepi ini berada di atap gua, maka larutan akan menetes ke bawah.
Ketika larutan bereaksi dengan udara, terjadi pengendapan membentuk batuan runcing. Stalaktit  membentuk batuan runcing ke bawah, sedangkan stalagmit membentuk batuan runcing ke atas.

Dalam setahun, stalaktit dan stalagmit akan tumbuh rata-rata sebanyak 0,13 mm (0,005 inci). Saat mengalami pertumbuhan cepat, stalaktit bisa tumbuh 3 mm (0,12 inci) per tahun. 

Kamis, 07 Januari 2016

Hai..terimakasih buat para pengunjung blog ini..
Ada info penting ni...bagi yang ingin atau yang punya teman ingin melakukan trip ke Labuan Bajo dan Pulau komodo,cek paketnya sekarang dijamin murah dan aman join us..www.komodotur.com

Rabu, 06 Januari 2016




SONGKE (Kain tenunan Manggarai)
Tenunan berupa Lipa atau Towe Songke tidak bisa dipisahkan dari keseharian Orang Manggarai. Towe atau Lipa dalam bahasa setempat dikenakan oleh laki-laki dan perempuan, baik di rumah maupun saat menghadiri ritual adat, ke Gereja, ketika mandi dan tidur, saat kelahiran dan pernikahan, dan untuk membungkus yang telah meninggal.

Songke juga bisa menjadi pemberian saat acara masuk minta(lipa widang) dari orang tua kepada bakal keluarga baru. Dan dari fungsinya Lipa Songke kerap kali dianggap sebagai “wengko weki,” yang melindungi tubuh. Boleh dibilang, Songke itu menjadi jejak budaya Orang Manggarai.

Saat ini, di kota-kota pusat administrasi wilayah Manggarai Raya seperti  Ruteng, Borong dan Labuan Bajo, para pegawai pemerintah diwajibkan mengenakan Songke dalam bentuk jas atau kemeja sebagai salah satu usaha menghargai dan melestarikan tenun dan motif etnik setempat.


Antropolog dari London School of Economics, Chaterine Allerton dalam penelitiannya mencatat, tradisi tekstil tradisional yang dibuat menggunakan peralatan sederhana dan kerja tangan(hand woven) kerap kali dihubungkan  dengan klasifikasi sosial dan kosmologis tertentu, juga dianggap sebagai karya seni dengan sistem rancangan yang mengandung nilai sejarah. Tenun juga dipakai sebagai perlengkapan dalam ritual penguatan sistem politik dan simbol  keibuan.

Demikian pun Songke Manggarai. Tenunan ini ditempatkan secara istimewa dalam ritual adat, misalnya menjadi kain yang wajib dipakai saatPenti(syukur tahunan), upacara setelah kelahiran(cear cumpe), upacara pernikahan(wagal) dan upacara kematian. 
Di sisi lain, Songke juga menggambarkan kebanggaan sosial,pasalnya mengenakan tenunan ini membawa nilai rasa tersendiri. Ada yang kurang kala tidak mengenakan Songke saat upacara adat. Produk-produk turunan tenunan Songke juga dijadikan topi Manggarai dan selendang yang digunakan saat menarikan Sae dan Caci.


Konon, tradisi tenun dibawa ke NTT oleh pedagang Islam kira-kira pada abad ke-16. Lipa Songke memiliki kemiripan cara pembuatannya dengan songket Sumatra. Karakteristik tenunan songke itu lain daripada tenunan ikat yang berasal dari Flores Timur dan Pulau Sumba. Warna dasar kain Lipa Songke hitam, sedang motifnya berwarna-warni. 

Khusus Manggarai Selatan,  terdapat dua jenis tenun yang dikenal sebagai Lipa Surak/Lipa Todo dan Lipa songke yang dianggap  tenunan bernilai  tinggi. Bernilai tinggi karena harga dan pemaknaan budaya terhadap Songke itu sendiri.

Motif Songke cenderung dikaitkan dengan kampung tertentu, misalnya ada tenun khas Cibal, Munting, Ruis, Todo, dan juga daerah-daerah lain. Tidak semua kampung memiliki tradisi tenun, karena itu kampung-kampung yang menghasilkan tenun menjual hasil kerjanya kepada kampung lain. Konon, ketika seorang wanita menikah ia diperkenalkan dengan motif-motif  baru di kampung suaminya.


Kegiatan menenun(dedang) rupanya tumbuh dalam budaya laki-laki(patriarchy). Masyarakat Manggarai tradisional yang partiarkal itu menganggap perempuan sebagai Ata Pe’ang atau orang luar, sedang laki-laki disebut Ata One atau orang dalam.


Pandangan  ata pe’ang dan ata one yang sudah terucap sejak saat setelah seorang lahir ini seolah-olah membuat kedudukan perempuan di bawah kuasa laki-laki. Secara tradisional, laki-laki itu pihak penerima warisan dan pengambil keputusan. Sedang, perempuan dianggap orang luar karena akan meninggalkan orang tuanya setelah selesai menikah.


Dedang pun dianggap sebagai pekerjaan kaum perempuan dalam konteks pertanian subsisten dimana pekerjaan bidang pertanian merupakan kegiatan utama yang dilakukan sebagian besar laki-laki. Sedang perempuan bekerja di rumah, mengurus anak-anak, memasak dan menenun.


Praktisi Tenun Maria Moe kepada blogger mengatakan, motif-motif yang terajut dalam kain Songke dibentuk melalui pemaknaan historis yang berkaitan erat dengan kebiasaan, kepercayaan dan lingkungan alam tenun tempat itu berkembang. 

Misalnya motif Mateng atau Rumbit merupakan pola yang menggambarkan anting-anting yang dipakai di Kerajaan Todo tempo dulu. Sedang, motif Wela Runus memiliki kisah tertentu dalam sejarah Dalu Ndoso dan Dalu Todo. Motif lain seperti  Wela Kaweng diinspirasi bunga imut beraneka warna.
“Penempatan motif itu ada maknanya, sehingga tidak asal ditempatkan,” katanya. 


Misalnya, motif  Mata Manuk(mata ayam) sebenarnya menggambarkan proses ritual doa adat yang selalu menggunakan ayam sebagai hewan korban. Motif lain seperti Rempa Teke(kaki tokek) dianggap sebagai simbol kesetian dalam pernikahan(kawing). Kalau sudah memiliki pasangan tidak boleh berpindah ke perempuan atau lak-laki lain.


Songke, lanjutnya, terkait erat dengan sejarah kerajaan dan Dalu. Karena itu songke acapkali melambangkan keagungan, wibawa sosial dan barang mewah dalam masyarakat tradisional. Misalnya, masa Kerajaan Todo, Songke dan cara pemakaiannya menunjukan strata sosial.


Tempo doeloe perempuan Manggarai diperbolehkan menenun setelah mendapat menstruasi pertama. Kebanyakan keterampilan ini dipelajari dari orang dekat seperti ibu atau kakak perempuan yang sudah tahu menenun. Dulu aktivitas ini dianggap pengisi waktu senggang saja.


Dibutuhkan waktu enam bulan untuk membuat benang, mencelup benang dengan pewarnaannya. Musim tenun dimulai dari Mei–Oktober seusai panen, karena pada musim panen kaum perempuan sibuk bekerja di kebun. Kalau mereka bekerja lebih cepat, dua lembar kain dapat dihasilkan dalam setahun. Kain itu biasa dipakai sendiri atau digunakan saat acara-acara adat.


Situasi berubah. Songke tidak hanya ditenun untuk kebutuhan sendiri dan acara adat, tetapi juga dijual ke pasar. Hamilton(1994:52) mencatat, ada dua cara penjualan tekstil Flores umumnya, tenun yang kualitasnya rendah dijual di pasar dan yang kualitasnya tinggi seperti yang terbuat dari kapas asli dan benang sutra dijual kepada langganan-langganan khusus.


Ulla Keech-Marxpeneliti dari The Australian National University membedakan tiga kelompok pembeli Songke Manggarai. Pertama, kelompok kelas menengah di kota pusat administrasi yang membeli songke sebagai fashion item untuk keperluan sehari-hari. Kedua, orang Manggarai di kampung yang bukan daerah tenun memerlukan Songke untuk upacara adat. Ketiga, wisatawan yang membeli Songke sebagai oleh-oleh sepulang berlibur.


Aktivitas tenun saat ini tidak hanya terkait dengan kebutuhan sehari-hari dan acara adat tetapi juga untuk kepentingan perdagangan. Di satu sisi, ini perkembangan ini penting untuk kesejahteraan para penenun dan pengetahuan menenun akan diwariskan terus menerus. Namun di sisi lain, pengetahuan filosofi dan penempatan motif akan hilang manakala tidak ada upaya memperdalamnya.


Praktisi Tenun Songke Maria Moe pun mengakui, saat ini sebagian besar penenun Manggarai sekarang tidak mengerti makna motif khas Manggarai dan enggan mempelajarinya. Mereka hanya tertarik membuat tenunan dengan motif yang cepat laku di pasar.


Pengetahuan penggunaan benang berkualitas dengan pewarnaan tradisional tidak lagi dilakukan. Alat pembuat benang tradisional pun sudah dijadikan kayu bakar mengingat prosesnya yang memakan waktu dan rumit. Di sisi lain, harus diakui kalangan muda enggan melirik pekerjaan menenun sebagai aktivitas yang bisa memberi kesejahteraan ekonomis.


Kualitas tenun Manggarai saat ini kurang diperhatikan misalnya menenun dengan menggunakan benang berkualitas rendah produksi pabrik. Benang-benang juga memakai celupan kimia, bukan dari daun-daun tradisional yang acapkali mudah luntur. Dengan alasan cepat laku, kualitas tenun kurang diperhatikan asal menghasilkan banyak uang banyak penenun tidak peduli lagi kualitas tenun mereka.


Pemerintah tiga Kabupaten, Manggarai, Mabar dan Matim memang sedang gencar menyelamatkan tenun Songke dengan pengenaanya dalam formalitas birokratis, namun hal itu tidak diikuti dengan pelestarian makna motif dan pemeliharaan kualitas melalui pembinaan penenun secara berkelanjutan. Kualitas benang yang rendah dan motif yang kurang diperhatikan membuat tenun ini kurang keluar dari tempurung kemanggaraiannya.www.komodotur.com




Dalam kancah pasar modern, Songke perlu dimaknai secara baru, selain sebagai benda budaya setempat, Songke harus menjadi milik publik. Karena itu, penting untuk melakukan inovasi seperti pembuatan produk-produk turunan seperti tas, syal, sarung bantal, dan sebagainya. Dengan demikian Songke tidak hanya menjadi jejak budaya Manggarai tetapi juga jejak budaya nasional.

Jumat, 11 Desember 2015

TARIAN CACI MANGGARAIwww.komodotur.com
 Caci adalah Tari Perang sekaligus Permainan Rakyat antara sepasang penari laki-laki yang bertarung dengan Cambuk(larik) dan Perisai(ngiling) di Manggarai,Flores NTT. Penari yang bersenjatakan cambuk (larik) bertindak sebagai penyerang dan seorang lainnya bertahan dengan menggunakan perisai (ngiling). Tari ini dimainkan saat syukuran musim panen (hang woja) dan ritual tahun baru (penti) , upacara pembukaan lahan atau upacara adat besar lainnya, serta dipentaskan untuk menyambut tamu penting.

Seorang laki-laki yang berperan sebagai pemukul (disebut paki) berusaha memecut lawan dengan pecut yang dibuat dari kulit kerbau yang dikeringkan. Pegangan pecut juga dibuat dari lilitan kulit kerbau. Di ujung pecut dipasang kulit kerbau tipis dan sudah kering dan keras yang disebut lempa atau lidi enau yang masih hijau (disebut pori). Laki-laki yang berperan sebagai penangkis (disebutta’ang), menangkis lecutan pecut lawan dengan perisai yang disebut nggiling dan busur dari bambu berjalin rotan yang disebut agangatau tereng. Perisai berbentuk bundar, berlapis kulit kerbau yang sudah dikeringkan. Perisai dipegang dengan sebelah tangan, sementara sebelah tangan lainnya memegang busur penangkis.
WAE REBO TRADITIONALVILLAGE (kampung tradisional wae rebo)

Wae Rebo terletak di Barat Daya kota Ruteng, ibukota Kabupaten Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur.Menurut cerita dari mulut ke mulut yang belum bisa dipastikan kebenarannya, diketahui bahwa sekitar seribu tahun yang lalu, orang Minangkabau datang ke Wae Rebo dan menetap disini. Mereka inilah yang menjadi cikal bakal dan nenek moyang orang Wae Rebo.www.komodotur.com
perjalanan ke wae rebo akan lebih mudah jika perjalanan dimulai dari Labuan Bajo.
Dari beberapa sumber, kebanyakan pengunjung mengambil rute memutar dari Ruteng sebelum menuju desa Denge yang merupakan desa terakhir sebelum menuju kampung Wae Rebo. Selama perjalanan panjang menuju desa Denge kita akan disuguhkan pemandangan yang luar biasa, hamparan sawah dari tanah Flores yang subur, jalanan bukit yang menanjak dan pemandangan pesisir pantai yang menggoda.
Denge merupakan desa pesisir yang berada di tepi pantai. Dari Denge kita bisa melihat pulau Mules dengan sebuah puncak yang terletak di tengah pulau tersebut. Denge berperan sebagai desa transit bagi para wisatawan sebelum melanjutkan perjalanan ke Wae Rebo. Disini sudah ada beberapa homestay yang dikelola oleh warga Denge maupun Wae Rebo yang ‘turun gunung’. Biasanya sebelum melanjutkan perjalanan ke Wae Rebo, para wisatawan akan beristirahat di Denge setelah perjalanan panjang dari Labuan Bajo atau Ruteng. Desa Denge adalah desa terakhir yang dilalui oleh kendaraan bermotor, baik itu motor maupun mobil. Untuk mencapai Wae Rebo, wisatawan harus berjalan kaki. Untuk memudahkan para pengunjung, banyak pemuda desa Denge maupun Wae Rebo yang bersedia menjadi tenaga porter, membantu pengunjung membawa perlengkapan mereka pada saat trekking menuju Wae Rebo.
Perjalanan akan dimulai dari Denge denga jarak tempuh ± 9 km yang bisa ditempuh dalam waktu 2 – 4 jam, sangat tergantung kondisi fisik masing-masing pengunjung. Karena letak desa Denge persis di tepi pantai, bisa dikatakan perjalanan ke Wae Rebo dimulai dari titik 0 m dpl dan mendaki pengunungan hingga ketinggian 1.200 m dpl. Rute awal merupakan jalanan tanah lebar yang sekiranya akan dibuat jalan aspal.
Perjalanan akan melintasi kawasan hutan yang rimbun. Pada saat memasuki hutan, pengunjung akan disambut oleh riuhnya suara kicauan burung. Hutan di wilayah ini merupakan area umum, yaitu sebuah lokasi yang menjadi tempat pertemuan setiap warga masyarakat. Tidak heran jika selama perjalanan melintasi hutan, kita akan sering bertemu dengan warga masyarakat yang sedang mengambil hasil hutan, mengantarkan pesan kepada keluarga di Kombo atau Denge, atau hanya sekedar berkunjung ke sanak keluarga, dan lain sebagainya.
Rute berikutnya adalah jalur memutar melewati perbukitan yang rawan longsor dan jalanan semakin menyempit. Jalur dengan variasi tingkat kesulitan ini menjadi tantangan tersendiri bagi para pengunjung. Jalur terberat adalah jalur antara Denge hingga Wae Lumba. Jalur ini berkarakter bebatuan yang besar, kerap menanjak dan terkadang licin. Selain itu kita akan melewati sebuah sungai kecil sebelum tiba di Wae Lumba. Jalur Wae Lumba ke Poco Roko juga menegangkan, terutama untuk orang yang takut ketinggian. Pengunjung akan menyusuri jalur yang berada di bibir jurang. Poco Roko merupakan titik tertinggi dan lokasi dimana masyarakat bersentuhan dengan modernisasi, disini biasanya warga mencari sinyal telepon. Dengan adanya sinyal telepon berarti komunikasi dengan dunia luar bisa terjadi. Salah seorang pengunjung mengaku pernah melakukan update status di salah satu jejaring sosial pada saat berada di Poco Roko. Beberapa menit setelah melalui Poco Roko, kita akan sampai di Ponto Nao. Disini terdapat sebuah pos pemantau dengan atap yang terbuat dari ijuk, sama seperti bahan yang digunakan untuk membuat atap Mbaru Niang. Dari Ponto Nao ini kita bisa melihat di kejauhan sebuah dusun dengan bangunan-bangunan berbentuk kerucut yang mengepulkan asap. Itulah kampung diatas awan, Wae Rebo. Jalur perjalanan akan menurun dengan hamparan tanaman kopi di sepanjang jalan hingga tiba di gerbang kampung Wae Rebo.
Merangkul Kearifan Lokal
Wae Rebo adalah kampung adat Manggarai Tua yang berusaha untuk melestarikan kearifan lokal sebagai salah satu kekayaan budaya Indonesia. Salah satu yang dilakukan adalah ritual Pa’u Wae Lu’u. Ritual ini dipimpin oleh salah satu tetua adat Wae Rebo yang bertujuan meminta ijin dan perlindungan kepada roh leluhur terhadap tamu yang berkunjung dan tinggal di Wae Rebo hingga tamu tersebut meninggalkan kampung ini. Tidak hanya itu, ritual ini juga ditujukan kepada pengunjung ketika sudah sampai di tempat asal mereka. Bagi masyarakat Wae Rebo, wisatawan yang datang dianggap sebagai saudara yang sedang pulang kampung. Sebelum selesai ritual ini, para tamu tidak diperkenankan untuk melakukan kegiatan apapun termasuk mengambil foto.
Tetua adat Wae Rebo kemudian akan melakukan briefing kecil tentang beberapa hal yang tabu dilakukan selama para tamu berada di Wae Rebo. Beberapa hal tersebut antara lain adalah memakai pakaian sopan, artinya untuk para wanita tidak diperkenankan memakaitank top atau hot pants, selain karena udara dingin, hal ini akan membuat warga masyarakat menjadi risih. Hal lain yang perlu mendapat perhatian adalah tidak menunjukkan kemesraan, baik itu dengan lawan jenis maupun sejenis, seperti berpegangan tangan, berpelukan atau berciuman, bahkan untuk yang sudah berstatus suami istri. Hal lain yang perlu dihindari adalah mengumpat atau memaki selama berada di kampung ini. Pengunjung juga diharuskan melepaskan alas kaki ketika masuk ke dalam rumah.
Kearifan lokal lain yang perlu mendapat perhatian adalah tentang penggunaan uang administrasi bagi wisatawan yang masuk ke kampung Wae Rebo. Memang ada kesan bahwa biaya administrasi selalu dikaitkan dengan komersialisasi budaya, uangnya dikemanakan, dan pertanyaan lainnya yang selalu dikaitkan dengan korupsi. Namun uang administrasi di Wae Rebo ini sudah diatur menurut kearifan lokal setempat. Pengelolaan uang ini dipercayakan kepada Lembaga Pariwisata Wae Rebo. Uang administrasi yang didapat dari wisatawan digunakan untuk keperluan biaya bahan makanan dan memasak makanan yang dibuat oleh para ibu, pemeliharaan infrastruktur kampung, bahan bakar generator set dan sumber air.
Sehari-hari warga Wae Rebo merupakan petani kopi dan pengrajin kain tenun cura. Saat ini warga Wae Rebo sedang mengembangkan berkebun sayur mayur. Untuk wisatawan yang datang, bisa mengikuti kegiatan ini, seperti ikut menumbuk kopi dengan ibu-ibu, memetik kopi dari kebun kopi dengan para lelaki bahkan bisa melihat ibu-ibu menenun kerajinan kain cura yang biasanya dilakukan di depan rumah. Para wisatawan dapat terlibat langsung dalam kegiatan sehari-hari masyarakat Wae Rebo. Saat malam tiba pengunjung akan menginap di Mbaru Niang, rumah adat Wae Rebo yang namanya sudah mendunia. Dengan beralaskan tikar yang dianyam dari daun pandan, kita akan bercengkerama dan saling berbagi cerita tentang pengalaman hidup keluarga besar di Wae Rebo.
Mbaru Niang
Nah, salah satu daya tarik kampung ini yang sudah mendunia adalah rumah adat yang dilestarikan di kampung ini, Mbaru Niang. Dalam bahasa Manggarai, Mbaru Niang berarti ‘rumah drum’. Bangunan berbentuk kerucut ini dibangun secara tradisional. Atap besar terbuat dari ijuk yang hampir menyentuh tanah, mirip dengan honai di Papua, didukung dengan sebuah tiang kayu pusat. Didalamnya terdapat perapian yang terletak di tengah rumah. Disebut rumah drum karena salah satu rumah digunakan untuk menyimpan drum pusaka suci dan gong yang merupakan media sakral klan untuk berkomunikasi dengan nenek moyang.
Bentuk bangunan Mbaru Niang yang berbentuk kerucut, melingkar dan berpusat di tengah diyakini melambangkan persaudaraan yang tidak pernah putus di Wae Rebo dengan leluhur mereka sebagai titik pusatnya. Pada kenyataannya memang warga Wae Rebo tidak melupakan leluhurnya seperti yang tertuang dalam ungkapan “neka hemong kuni agu kalo” yang bermakna “jangan lupakan tanah kelahiran”.
Struktur Mbaru Niang cukup tinggi, sekitar 15 meter, yang keseluruhannya ditutup dengan ijuk. Didalamnya memiliki lima tingkat yang terbuat dari kayu worok dan bambu yang menggunakan rotan untuk mengikat konstruksi sebagai ganti paku. Mbaru Niang merupakan bangunan komunal, yang artinya satu rumah bisa ditempati enam sampai delapan keluarga dalam satu atap besar. Konsep arsitektur inilah yang membuat Yori Antar dan kawan-kawan penasaran dan mencari tempat ini pada tahun 2008. Mbaru Niang sendiri dibuat dengan struktur lima tingkat. Masing-masing tingkat memiliki nama dan fungsinya masing-masing. Tingkat pertama disebut lutur yang berarti tenda, lutur berfungsi sebagai tempat tinggal dan berkumpul dengan keluarga. Tingkat kedua disebutlobo, sebuah loteng yang berfungsi menyimpan bahan makanan dan barang-barang keperluan sehari-hari. Tingkat ketiga disebut lentar, yang berfungsi untuk menyimpan benih-benih tanaman pangan, seperti jagung, padi dan kacang-kacangan. Tingkat keempat dinamakan lempa rae yang merupakan tempat yang disediakan untuk menyimpan stok pangan jika terjadi kekeringan. Tingkat terakhir dinamakan hekang kodeyang berfungsi untuk menyimpan langkar, sebuah anyaman bambu berberntuk persegi untuk menyimpan sesajian yang akan digunakan untuk persembahan kepada leluhur. Semua tingkat dan fungsinya masih ada dalam setiap Mbaru Niang dan terus dipertahankan hingga saat ini. Jika ada Mbaru Niang yang rusak dan butuh perbaikan, renovasi tradisional juga masih dikerjakan oleh masyarakat Wae Rebo dalam semangat gotong royong.
Konsistensi inilah yang kemudian membuat UNESCO memberikan penghargaan Award of Excellence pada acara UNESCO Asia-Pacific Awards tahun 2012 di Bangkok. Penghargaan ini diberikan kepada proyek-proyek konservasi dalam sepuluh tahun terakhir untuk bangunan yang telah berumur lebih dari lima puluh tahun. Mbaru Niang berhasil mengalahkan 42 kendidat lainnya dari 11 negara di Asia Pasifik, antara lalin sistem irigasi bersejarah di India, kompleks Zhizhusi di Cina dan Masjid Khilingrong di Pakistan. Dalam keterangan resmi penghargaan UNESCO disebutkan, keunggulan proyek pembangunan kembali Mbaru Niang terletak pada keberhasilannya.www.komodotur.com
Sama seperti daerah di Indonesia bagian Timur yang masih kaya dengan potensi budaya, kita masih bisa melakukan banyak eksplorasi budaya dan wisata disini. Bukan untuk melakukan eksploitasi budaya Indonesia, namun semata karena dengan adanya dukungan pariwisata, kesejahteraan masyarakat di lokasi wisata akan semakin baik, akses jalan salah satunya, faktor transportasi juga perlu mendapat perhatian dari semua pihak terutama untuk infrastrukturnya. Tidak heran kini Wae Rebo mendapat dukungan untuk menjadi Atraksi Wisata Budaya Utama di Flores Barat.

 Untuk Teman Teman yang Ingin Melakukan Perjalanan Ke Wae Rebo Silahkan join dengan kami di www.komodotur.com